Sabtu, 24 Agustus 2013

Bagaimana Stephen Hawking (Salah satu orang terpintar di dunia) Hidup 47 Tahun dengan Penyakit ALS?


North Carolina, Penderita ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) atau penyakit fatal yang menyerang sel saraf, biasanya hanya mampu bertahan 2 hingga 5 tahun setelah timbul gejala. Tapi tidak dengan Stephen Hawking, ahli fisika terkenal asal Inggris ini mampu bertahan hingga 47 tahun setelah divonis ALS.

ALS yang dikenal juga sebagai penyakit Lou Gehrig atau penyakit motor neuron (MND) adalah penyakit yang mempengaruhi sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang yang menyebabkan kelemahan otot dan atrofi.

Penyakit ini menyebabkan kematian neuron motorik, yang berarti otak kehilangan kemampuan untuk mengendalikan gerakan otot. Ketika otot dalam diafragma dan dinding dada gagal, penderita akan kehilangan kemampuan untuk bernapas tanpa bantuan ventilasi.

Kebanyakan orang dengan ALS hanya bertahan 2 sampai 5 tahun setelah diagnosis. Hawking, di sisi lain, telah hidup selama 47 tahun sejak ia memiliki penyakit ALS.

Stephen William Hawking dilahirkan pada 8 Januari 1942 di Oxford, Inggris. Dia tumbuh besar dekat kota London dan meraih gelar Bachelor dari Oxford University pada 1962 dengan predikat terbaik.

Namun pada usia 21 tahun, dia divonis menderita penyakit ALS yang membuatnya duduk di kursi roda hingga kini tanpa bisa bergerak sedikitpun.

Penyakit ini berawal ketika dia kesulitan mengikat tali sepatu yang membuatnya sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.

Sekitar 1 dari 10 kasus ALS dianggap karena genetika, tetapi pemicu untuk 90 persen kasus lainnya masih merupakan misteri.

Para ilmuwan yang didukung oleh National Institute of Neurological Disorders dan Stroke (NINDS) menemukan bahwa mutasi pada gen yang memproduksi enzim SOD1 (superoxide dismutase 1) dikaitkan dengan beberapa kasus ALS. Enzim ini merupakan antioksidan kuat yang melindungi tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas.

Gejala awal ALS mungkin sangat halus dan sering diabaikan, seperti berkedut, kram (kaku otot), lemah otot lengan atau kaki, bicara melantur atau kesulitan mengunyah dan menelan.

Gejala lanjutan seperti kesulitan bernapas dan mengalami kelumpuhan. Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan pada otot-otot pernapasan.

ALS tidak mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melihat, mencium, merasakan, mendengar, atau mengenali sentuhan. Pasien biasanya mempertahankan kontrol otot mata dan fungsi kandung kemih dan usus, meskipun pada tahap akhir penyakitnya, pasien membutuhkan bantuan untuk ke kamar mandi.

"Saya berusaha hidup senormal mungkin, dan tidak berpikir tentang kondisi saya atau menyesali hal-hal yang mencegah saya berbuat banyak," kata Profesor Hawking, seperi dilansir dari Hawking.org, Selasa (27/4/2010).

Pada awalnya, penulis buku terlaris 'A Brief History of Time' ini merasa agak terganggu. Sadar bahwa ia memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan akan membunuhnya dalam beberapa tahun, sedikit mengejutkannya.

"Mimpi saya pada waktu itu sedikit terganggu, saya merasa sangat bosan dengan hidup. Tapi tiba-tiba saya menyadari bahwa ada hal berharga lain yang dapat saya lakukan, jika saya tangguh," kata penerus Black Hole Theory (teori lubang hitam) yang ditemukan Einstein.

Dia kembali bangkit dan bermimpi, "Saya akan mengorbankan hidup saya untuk menyelamatkan hidup orang lain".

Saat itu ia kembali melakukan penelitian. Dan sepertinya, kehadiran Hawking di dunia sudah ditunggu-tunggu untuk meneruskan pekerjaan Newton dan Einstein dalam mengupas tabir semesta.

Seluruh riset Hawking dilakukan di dalam kepalanya, karena proses kelumpuhan tangannya yang berjalan berangsur-angsur. Secara perlahan pula dia melatih pikirannya untuk berpikir dengan cara yang berbeda dengan fisikawan pada umumnya.

Walaupun penyakit ini biasanya tidak merusak kecerdasan dan pikiran seseorang, beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa pasien ALS mungkin mengalami perubahan pada fungsi kognitif, seperti depresi dan masalah dengan pengambilan keputusan dan memori.

Seperti dilansir dari BBC, pada tahun 1985, Hawking divonis pneumonia dan harus menjalani operasi tracheotomy. Operasi tracheotomy menghapus kemampuannya untuk berbicara sama sekali, dan ia harus bergantung pada komputer portabel kecil dan speech synthesizer yang dipasang pada kursi roda.

"Dia orang yang cemerlang, dan dia berusaha dengan banyak kesulitan untuk mencapai semua hal yang telah dicapainya," kata Bob Hawkins, ahli diagnosis ALS dari North Carolina.

Hawking memiliki keterlibatan langsung dalam mempromosikan kepedulian dan penelitian tentang penyakitnya. Dia baru-baru ini setuju untuk menjadi pelindung dari Asosiasi MND di Northampton, Inggris.

Selama 47 tahun dari usianya yang kini 68 tahun, Hawking menghabiskan waktunya di kursi roda. Saat ini Hawking membutuhkan perawatan 24 jam. Diyakini pikirannya yang tajam yang mampu membuatnya bertahan hidup meski raganya sudah sangat tak berdaya.

Kisah Nick Vujicic

Nick lahir dari keluarga Kristen Serbia di Melbourne, Australia, pada 4 Desember 1982. Nick lahir dengan gangguan tetra-amelia langka. Tetra-amelia adalah kelainan kongenital sangat jarang.
Ibu Nick berumur 25 tahun ketika hamil anak pertamanya itu. Dia adalah seorang bidan dan bekerja sebagai perawat pediatrik di ruang bersalin di mana dia merawat ratusan ibu dan bayi mereka.
Ibu Nick tahu apa yang harus ia lakukan sementara dia hamil, mengawasi dietnya, berhati-hati tentang obat-obatan, dan tidak mengonsumsi alkohol, aspirin, atau pembunuh nyeri lainnya. Dia pergi ke dokter terbaik dan dokter meyakinkan segalanya berjalan lancar.
Masa kehamilan yang lancar dan tidak ada riwayat keluarga dengan kondisi fisik demikian, membuat ke dua orang tua Nick, Dushka Vujicic dan suaminya pendeta Borris Vujicic begitu terpukul dan perasaan mereka hancur lebur ketika ketika mereka melihat untuk pertama kali bayi mereka lahir, seorang bayi laki-laki yang tidak sempurna dan abnormal. Seorang anak tanpa tangan dan kaki.
Nick hanya memiliki satu kaki dengan 2 buah jari yang menonjol dari paha kirinya. Ibunya tidak tahan dengan apa yang dilihatnya, Nick lahir tanpa anggota badan.
“Bawa dia pergi,” jeritnya histeris. “Saya tidak ingin menyentuhnya atau melihat dia”.
Dengan meratap mereka memandangi bayi mungil yang menyedihkan itu dan bertanya-tanya dengan rintihan memilukan, mengapa Tuhan melakukan semua hal yang mengerikan ini kepada mereka, dan terutama pada bayi kecil mereka. Para perawat menangis menyaksikan hal menyedihkan itu. Ibu Nick menangis dan tentu saja Nick kecil juga menangis!
Mereka tidak pernah berpikir bahwa Nick akan hidup sangat lama, tetapi Allah berkehendak lain, Nick tumbuh pesat dan sangat sehat. Namun kecemasan kedua orang tua Nick terus mendera, mereka sangat khawatir, akan masa depan dan perjalanan hidup Nick selanjutnya.
Tidak mempunyai tangan untuk menyentuh, meraba, atau memegang.
Tidak mempunyai kaki untuk berjalan, berlari, menari, atau bahkan berdiri pada kedua kaki. Mengerikan sekali membayangkan masa depan Nick.
Setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun berlalu, mereka menyadari bahwa Tuhan masih memegang kendali dalam hidup mereka dan terus menolong mereka.
Kehidupan Nick dipenuhi dengan kesulitan demi kesulitan sepanjang hidupnya. Dia tidak bisa bersekolah di sekolah anak-anak normal karena cacat fisiknya. Hukum Australia melarangnya bersekolah di sekolah tersebut.
Ibu Nick terus berjuang untuk mengubah hukum dan berkat kegigihan ibunya, Nick akhirnya bisa bersekolah. Dia adalah salah satu siswa cacat pertama yang menuntut ilmu di sekolah umum.
Dia belajar menulis menggunakan dua jari kaki di kaki kirinya. Di sekolah ia selalu diganggu dan diolok-olok oleh teman-temannya dan anak-anak disekolah itu. Nick sangat tertekan. Nick sangat menyadari bahwa dia sangat berbeda secara fisik dengan teman-temannya, tetapi Nick merasa bahwa ia sama sekali tidak ada bedanya secara rohani dengan orang lainnya.
Nick seringkali menyendiri ditengah kesepian dan depresi yang melandanya, dan dalam kesendirian dan keputus-asaannya, dengan berderai air mata dan rintih tangis pilu, ia bertanya mengapa ia berbeda dengan anak-anak lainnya?, mengapa dia adalah orang yang lahir tanpa lengan dan kaki? Dia bertanya-tanya apa tujuan di balik hidupnya, atau apakah ia memiliki tujuan hidup?
Setelah mengalami banyak frustrasi dan merasa dirinya sebagai mahluk yang aneh di sekolah, di usia tujuh tahun Nick mencoba beberapa peralatan elektronik yang dirancang khusus untuk digunakan sebagai lengan, dengan harapan bahwa ia akan lebih seperti anak-anak lain. Selama masa percobaan dengan lengan elektroniknya, Nick menyadari bahwa ia tetap berbeda dengan teman-temannya.
Dan saat kesendiriannya itu Nick selalu berdoa dan memohon dengan sangat kepada Tuhan untuk melakukan mujizat bagi dirinya, membiarkan dia tumbuh menjadi besar seiring dengan tumbuh besarnya juga lengan dan kakinya, tapi itu tidak pernah sama sekali terjadi. Dia tetap tidak mempunyai lengan dan kaki. Sering muncul pertanyaan yang tak pernah bisa terjawab, mengapa dia bisa terjebak dalam tubuh yang mengerikan ini ?
Menurut Nick, kemenangannya melawan keputus-asaan dan ketidak berdayaan, serta munculnya gairah hidup yang dimilikinya adalah karena imannya kepada Tuhan Yesus, dukungan dan kasih sayang keluarganya, teman-temannya yang mengasihinya, serta banyak orang yang dia temui selama hidupnya yang telah mendorongnya untuk selalu mempunyai pengharapan dan semangat untuk terus berjuang.
Bahkan akhirnya, ia mulai menyadari bahwa hal-hal yang dia kerjakan sehari-hari dalam kondisi fisik terbatas itu, kemudian menjadi inspirasi bagi orang lain yang mempunyai keterbatasan fisik, bahkan orang-orang dengan kondisi fisik yang sempurna sekalipun.
Ia berterima kasih kepada Tuhan bahwa ia masih hidup dan menyadari bahwa hidupnya sangat berarti bagi dirinya dan juga orang lain.
Pada tahun 2005, Nick dinominasikan untuk Penghargaan sebagai “Young Man Australia of the Year”, yang merupakan kehormatan besar di Australia. Kehormatan penghargaan bagi orang muda untuk keunggulan mereka dan pelayanan kepada masyarakat dan bangsa, serta prestasi pribadi mereka. Nominasi untuk penghargaan ini hanya diberikan kepada orang yang benar-benar inspiratif dan berpretasi.
Pada usia 19 tahun Nick telah berkeliling dunia, berbagi cerita dengan jutaan orang, berbicara kepada berbagai kelompok yang berbeda seperti siswa, guru, pemuda, pebisnis pria dan wanita, pengusaha, dan jemaat gereja dari semua ukuran. Dia juga menceritakan kisahnya dan telah diwawancarai televisi di seluruh dunia.
Nick berkesempatan untuk berbicara dengan beberapa pemimpin negara, salah satunya adalah wakil presiden Kenya. Nick juga adalah seorang pembicara motivasi, dan ia telah berbicara kepada lebih dari 2 juta orang di 12 negara dari 4 benua yaitu Afrika, Asia, Oceania dan Amerika.
Dia juga menulis buku berjudul, “No Arms, No Legs, No Worries!”, yang sekanjutnya diterbitkan . Bahkan tahun ini Nick diatur untuk berbicara di lebih dari 20 negara.
Nick kuliah dan lulus ketika dia berusia 21 tahun. Dia menerima gelar di bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan. Dia juga mendirikan organisasi nirlaba “Hidup Dengan Keterbatasan”.
Sekarang di usia 29 tahun, Nick melakukan hal-hal luar biasa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang yang dua kali usianya. Nick juga memiliki perusahaan motivasi dengan dirinya sendiri sebagai pembicara.
Nick belajar berenang, menangkap ikan dan bermain sepak bola. Nick juga bisa melempar bola tenis, menjawab telepon, menaiki tangga, menyisir rambut sendiri, bercukur, dan menggosok gigi. Dia memiliki kursi roda listrik yang ia gunakan untuk melakukan setiap aktifitasnya di luar rumah.
Pahlawan adalah orang yang menunjukkan keberanian dan dianggap ideal untuk diikuti.
Dan Nick Vujicic membuktikan bahwa dirinya mempunyai keberanian yang besar di tengah keterbatasan fisiknya. Nick juga menginspirasi banyak orang dengan dan tanpa cacat untuk terus berusaha dan melakukan yang terbaik dalam segala sesuatu yang dapat mereka lakukan dalam kehidupan mereka.
Nick selalu mengatakan, “bahwa jika Anda memiliki keinginan dan semangat untuk melakukan sesuatu, dan jika itu kehendak Allah, Anda akan memperolehnya pada saat yang paling tepat dan paling baik.”
Banyak orang melihat Nick melakukan hal-hal yang tampaknya mustahil bagi seseorang untuk dilakukan tanpa lengan atau kaki. Dan hal ini mengilhami mereka untuk melakukan hal-hal yang sulit bagi mereka juga.
—————

Sabtu, 27 Oktober 2012

Tes Logika

Saya mempunyai satu pertanyaan, "This is a simple question, but not for you". Pertanyaan ini menguji sejauh mana anda berfikir, tetapi semakin jauh anda berfikir semakin jauh pula anda meninggalkan jawaban. Menurut hasil survey, dari begitu banyaknya anak SD yang ditanya, hanya 40% yang mampu menjawab dengan benar, anehnya semakin dewasa seseorang yang ditanya semakin sedikit yang mampu menjawab, SMP 30%, SMA 20%, dan orang tua 10%. Mengapa hal ini terjadi??? Karena semakin dewasa seseorang, semakin jauh dia berfikir, semakin matang cara befikirnya, dan hal ini lah yang membuat dia jauh dari jawaban."So, it is a LOGIC QUESTION":
Pada tahun 1973, German mengeluarkan mobil limited edition, sebut saja mobil "X" yang hanya diproduksi 50 unit di dunia. Sebenarnya mobil ini dibuat tidak ditujukan ke negara yang lalu lintasnya sebelah kiri, seperti Indonesia, Inggris, Australia, dll. Tetapi seorang milioner dari Inggris membeli 1 dari 50 unit mobil ini. Milioner tsb nekat mengemudikan mobil ini yang kemudinya di sebelah kiri bersama anaknya. Tidak disangka, di tengah perjalanan dari arah sebelah kiri mobil yang sangat besar menabrak mobil ini. Akhirnya, sang ayah meniggal, dan sang anak luka parah. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkdengan sang anak, yaitu dengan operasi. Kemudian, dibawalah anak ini menuju ruang operasi, dan anehnya, ketika dokter memasuki ruang operasi dia berkata" Ini Anakku".

 Pertanyaannya, siapakh dokter tersebut...............???

"SIMPLE QUESTION and SIMPLE ANSWER"


Kamis, 11 Oktober 2012

Motivasi untuk yang Sempurna


Bob Willen : Kisah Penyandang Cacat Yang Pantang Menyerah

Filed under: KISAH INSPIRASI |
Apakah tindakan kalian jika kedua kaki kalian telah diamputasi? Apakah itu berdiam diri dan menerima keadaan ataukah terus melangkah kedepan dan mencapai tujuan? Jika hal itu membuat kalian untuk berdiam diri saja, cobalah kalian lihat BOB WILLEN dan petiklah pelajaran darinya. Lomba marathon internasional 1986 di New York  diikuti ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini berjarak 42 km. mengelilingi kota New York. Jutaan orang  di seluruh dunia menyaksikan acara ini melalui televisi secara langsung.
Ada satu orang peserta yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob seorang veteran perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya  karena terkena ranjau saat perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya kedepan.
Lomba pun dimulai. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton terus bertepuk tangan mendukung para pelari. 5 km telah berlalu. Beberapa peserta mulai kelelahan, mulai berjalan kaki. 10 km berlalu. Saat ini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-2. Beberapa yang  kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.
Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya.
Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob!  Ayo Bob ! Berlarilah terus”. Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.
Empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.
Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah-tengah  gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”
Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.
Di hadapan puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata :
Saya bukan orang hebat. Anda tahu, saya tidak punya kaki lagi. Saya hanya menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Saya hanya mencapai apa yang telah saya inginkan. Kebahagiaan yang saya dapatkan adalah dari proses untuk mendapatkannya. Selama lomba, fisik saya menurun drastis. Tangan saya sudah hancur berdarah-darah, tapi rasa sakit di batin saya terjadi bukan karena luka itu melainkan ketika saya memalingkan wajah saya ke garis finish. Jadi, saya kembali fokus menatap goal saya. Saya rasa, tidak ada orang yang gagal dalam berlari marathon ini. Tidak masalah Anda mencapainya berapa lama, asal Anda terus berlari. Anda disebut gagal bila Anda berhenti. Jadi, janganlah berhenti sebelum mencapai tujuan Anda.