Saya mempunyai satu pertanyaan, "This is a simple question, but not for you". Pertanyaan ini menguji sejauh mana anda berfikir, tetapi semakin jauh anda berfikir semakin jauh pula anda meninggalkan jawaban. Menurut hasil survey, dari begitu banyaknya anak SD yang ditanya, hanya 40% yang mampu menjawab dengan benar, anehnya semakin dewasa seseorang yang ditanya semakin sedikit yang mampu menjawab, SMP 30%, SMA 20%, dan orang tua 10%. Mengapa hal ini terjadi??? Karena semakin dewasa seseorang, semakin jauh dia berfikir, semakin matang cara befikirnya, dan hal ini lah yang membuat dia jauh dari jawaban."So, it is a LOGIC QUESTION":
Pada tahun 1973, German mengeluarkan mobil limited edition, sebut saja mobil "X" yang hanya diproduksi 50 unit di dunia. Sebenarnya mobil ini dibuat tidak ditujukan ke negara yang lalu lintasnya sebelah kiri, seperti Indonesia, Inggris, Australia, dll. Tetapi seorang milioner dari Inggris membeli 1 dari 50 unit mobil ini. Milioner tsb nekat mengemudikan mobil ini yang kemudinya di sebelah kiri bersama anaknya. Tidak disangka, di tengah perjalanan dari arah sebelah kiri mobil yang sangat besar menabrak mobil ini. Akhirnya, sang ayah meniggal, dan sang anak luka parah. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkdengan sang anak, yaitu dengan operasi. Kemudian, dibawalah anak ini menuju ruang operasi, dan anehnya, ketika dokter memasuki ruang operasi dia berkata" Ini Anakku".
Pertanyaannya, siapakh dokter tersebut...............???
"SIMPLE QUESTION and SIMPLE ANSWER"
Sabtu, 27 Oktober 2012
Kamis, 11 Oktober 2012
Motivasi untuk yang Sempurna
Bob Willen : Kisah Penyandang Cacat Yang Pantang Menyerah
April 16, 2012 |
Filed under: KISAH INSPIRASI |
Apakah
tindakan kalian jika kedua kaki kalian telah diamputasi? Apakah itu
berdiam diri dan menerima keadaan ataukah terus melangkah kedepan dan
mencapai tujuan? Jika hal itu membuat kalian untuk berdiam diri saja,
cobalah kalian lihat BOB WILLEN dan petiklah pelajaran darinya. Lomba
marathon internasional 1986 di New York diikuti ribuan pelari dari
seluruh dunia. Lomba ini berjarak 42 km. mengelilingi kota New York.
Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan acara ini melalui televisi
secara langsung.
Ada satu orang peserta yang menjadi
pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob seorang veteran
perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat
perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk
melemparkan badannya kedepan.
Lomba pun dimulai. Ribuan orang mulai
berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah mereka menunjukkan
semangat yang kuat. Para penonton terus bertepuk tangan mendukung para
pelari. 5 km telah berlalu. Beberapa peserta mulai kelelahan, mulai
berjalan kaki. 10 km berlalu. Saat ini mulai nampak siapa yang
mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk
iseng-2. Beberapa yang kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke
bis panitia.
Sementara hampir seluruh peserta telah
berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan
paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob
berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak,
menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan
melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya.
Ayah Bob yang berada bersama ribuan
penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob! Ayo Bob !
Berlarilah terus”. Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari
sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam
sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.
Empat hari telah berlalu, dan kini
adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang
harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari
garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob
perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana
tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak
memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena
luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan
pernafasannya.
Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di
tengah-tengah gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob
dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit !
Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu.
Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun !
Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”
Perlahan Bob mulai membuka matanya
kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam
dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan
satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish.
Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat
itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan
tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang
berhasil menyelesaikan lari marathon.
Di hadapan puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata :
“Saya
bukan orang hebat. Anda tahu, saya tidak punya kaki lagi. Saya hanya
menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Saya hanya mencapai apa yang
telah saya inginkan. Kebahagiaan yang saya dapatkan adalah dari proses
untuk mendapatkannya. Selama lomba, fisik saya menurun drastis. Tangan
saya sudah hancur berdarah-darah, tapi rasa sakit di batin saya terjadi
bukan karena luka itu melainkan ketika saya memalingkan wajah saya ke
garis finish. Jadi, saya kembali fokus menatap goal saya. Saya rasa,
tidak ada orang yang gagal dalam berlari marathon ini. Tidak masalah
Anda mencapainya berapa lama, asal Anda terus berlari. Anda disebut
gagal bila Anda berhenti. Jadi, janganlah berhenti sebelum mencapai
tujuan Anda.”
Langganan:
Komentar (Atom)